Teluk Triton

www.lensalensa.com – Teluk Triton merupakan destinasi pariwisata di ujung timur Indonesia yaitu di papua. Dana yang harus kalian siapkan menuju Teluk Triton terbilang sangat besar. Selain tiket pesawat menuju Papua yang sudah tinggi, selama perjalanan menuju lokasi pun tak kalah menguras isi dempot. Namun melihat animo wisatawan yang semakin meningkat saja, dapat dipastikan bahwa uang yang terkuras akan terbayar kontan melalui pemandangan alam yang disuguhkan. Benarkah? Jika dibayangkan dari foto-foto yang ada, rasanya hal itu tidak berlebihan.

Buka Gambar Klik Disini

Rute Perjalanan Menuju Teluk Triton

Dari berbagai kota di luar Papua, penerbangan yang tersedia biasanya menuju Sorong atau fak fak. Jika dari sorong, kalian bisa melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat tujuan Bandara Utarom, Kaimana, yang juga biasanya transit di Kota Fak-fak. Hanya saja mungkin tidak tersedia setiap hari sehingga perlu perencanaan tepat dengan maskapai penyedia.

Dari daratan Kaimana, barulah perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan bermotor menuju pelabuhan. Belum tersedianya kapal wisata membuat kita harus menyewa kapal baik longboat ataupun speedboat. Tarif sewa kapal inilah yang lumayan mahal yaitu mulai dari Rp 4 – 5 jutaan perhari untuk speedboat. Maka cara terampuh mengatasi hal ini ialah dengan mengajak teman 5-10 orang agar biaya bisa lebih ringan. Perjalanan dari pelabuhan menuju Teluk Triton dengan speedboat ialah sekitar 1,5 jam, sedangkan jika dengan longboat bisa mencapai 3 jam.

Biasanya, lokasi pertama yang dituju selepas dari pelabuhan Kaimana ialah Selat Namatota atau dikenal juga dengan nama Selat Erana. Disanalah terdapat Pulau Namatota yang biasa dijadikan persinggahan awal sebelum berwisata laut.

Buka Gambar Klik Disini

Jajaran Pulau-Pulau Kecil di Tengah Lautan, Pesona Bak Negeri Dongeng

Ini yang menjadi salah satu ciri bentang alam Raja Ampat yang menjadikannya sangat kenamaan ialah tebaran pulau-pulau kecil dan batu karang di tengah lautannya. Keindahan ini mempesona ketika dilihat dari atas perbukitan karena ibarat sebuah negeri dongeng yang menjadi nyata.

Itupula yang menjadikan Teluk Triton spesial dan dianggap pesaing baru bagi Raja Ampat yang sudah terlebih dahulu mendunia. Di sekitaran perairan teluk ini, terdapat pulau-pulau kecil yang sedap dipandang dari atas bukit terdekat. Selain itu, menepi di beberapa pulau berpantai juga bisa dijadikan pilihan karena pantai-pantai berpasir putih didalamnya menyajikan jamuan indah khas daerah tropis. Di pulau-pulau itu juga bisa dijadikan lokasi untuk berkemah mengisi malam. 

Buka Gambar Klik Disini

Tempat Lukisan Prasejarah di Tebing Maimai

Sebelum menengok keindahan alamnya, Teluk Triton juga menarik perhatian karena ditemukannya lukisan prasejarah di sebuah Tebing terjal batu gamping kawasan kars yang dikenal dengan nama Pegunungan Maimai. Di dinding tebing berwarna putih tersebut, tampak beragam lukisan berbagai bentuk seperti kadal, telapak tangan, tengkorak, dan hewan-hewan lain. Lukisan yang diperkirakan dibuat pada zaman Mesolitikum tersebut, menghiasi tebing bukan hanya beberapa spot atau beberapa meter saja, melainkan hingga 1 km.

Satu lukisan yang terbilang memiliki nilai tertentu yaitu lukisan kadal setengah manusia yang dikenal dengan istilah Matuto. Bentuk atau motif Matuto ini punya makna keagamaan tersendiri bagi warga Kaimana dengan kata lain bahwa ‘media’ lukis raksasa tersebut ibarat tempat sakral tersendiri bagi orang lokal. 

Buka Gambar Klik Disini

Bermain dengan Hiu Paus dan Lumba-Lumba

Keunikan Teluk Triton yang juga menjadi magnet bagi wisatawan ialah keberadaan Hiu Paus di perairannya. Habitat utamanya berada di sekitar Kampung Lobo. Kehadiran paus ibarat atraksi wisata dimana semburan air dari lubang di punggungnya yang khas menjadi pertanda keberadaannya.

Bermain dengan Hiu Paus yang bisa mencapai panjang 12 meter tersebut bisa dilakukan dengan menyaksikan mereka dari atas kapal atau jika bernyali lebih bisa ikut menyelam langsung. Hal ini terbilang aman karena memang sejatinya mamalia laut raksasa tersebut tidak menyerang manusia dalam kondisi normal, dan tentunya harus ditemani oleh pemandu lokal demi keamanan.

Biasanya wisatawan memanfaatkan momen menyelam bersama Paus ini sekaligus untuk keperluan fotografi. Sangat menggiurkan memang berfoto di bawah laut dengan bertemankan paus berukuran raksasa. Jadi jangan sampai tidak membawa kamera underwater ketika memutuskan berlibur ke Teluk Triton ini.

Selain Paus, mamalia laut lainnya yang terkenal sangat bersahabat yaitu lumba-lumba juga acap kali dijumpai di perairan Teluk Triton. Seperti umumnya, lumba-lumba ini biasa berenang secara berkelompok sehingga jika beruntung, kalian tentu akan menyaksikan langsung sekawanan lumba-lumba tersebut mengelilingi perairan setempat diantara pulau-pulau kecil yang ada. 

Buka Gambar Klik Disini

Menjadi Saksi Keindahan Bawah Laut Teluk Triton

Masih seputar penyelaman, Tekuk Triton juga menjadi surganya pecinta taman laut. Di Teluk Triton ini kekayaan bawah lautnya berhasil menghipnotis dan menjadi candu bagi penikmatnya. Bagaimana tidak, tercatat 16 jenis penyu hijau, 28 jenis udang mantis, 471 jenis karang dan diantaranya meruapakan jenis baru, serta 959 jenis ikan karang berhabitat di perairan Teluk Triton ini. Lokasi atau spot penyelaman favorit karena kekayaan dan keindahannya yang memukau ialah di sekitaran kawasan Temintoi, Selat Iris.

Perairannya yang jernih dan tenang menjadikan penyelaman di Teluk Triton juga semakin menggugah. Untuk itu, persiapkan pula peralatan penyelaman yang juga bisa langsung menyewanya di lokasi. 

Buka Gambar Klik Disini

Menuju Daratan Kampung Lobo, Singgahi Jejak Sejarah di Tugu Fort du Bus

Tidak sekedar soal keindahan lanskapnya, Kawasan Teluk Triton juga memiliki jejak sejarah peninggalan Hindia Belanda yaitu sebuah tugu kecil ‘Fort du Bus’. Ya, dari namanya bisa dipastikan bahwa sebenarnya sempat berdiri benteng disini yaitu di tahun 1828. Namun sayangnya benteng ini ditinggalkan dan hancur setelah adanya wabah malaria yang menyerang wilayah Lobo tahun 1835 yang mengakibatkan meninggalnya sebagian besar tentara Hindia Belanda. Saat ini, tugu Fort du Bus berdiri hanya sebagai simboliasasi atau pertanda sejarah keberadaan benteng tersebut.

Nama Du Bus sendiri diambil dari nama Gubernur Jenderal hindia Belanda yang berkuasa di masa itu yaitu Burggraff du Bus de Gisignies. Keberadaan benteng sendiri menjadi tanda pendudukan koloni Hndia Belanda di tanah Papua. 

Buka Gambar Klik Disini

Hingga Senja Menyapa, Teluk Triton Tetap Punya Cerita

Melengkapi pesona yang nampak begitu menggiurkan sebelumnya, cerita yang dimiliki Teluk Triton masih berlangsung hingga senja menyapa. Lokasi perairan yang menghadap ke barat menjadikan sunset di sana juga menjanjikan keindahan. Golden sunset yang disuguhkan memantul di perairan serta membuat siluet bagi pulau-pulau yang ada.

Menikmati sunset bisa dilakukan di atas perahu sembari mengitari perairan atau bisa juga sembari bersantai di pantai di salah satu pulau. Keduanya sama-sama menenangkan dan menyenangkan. Jika ingin nuansa berbeda, kalian bisa mendaki ke bukit dan menyaksikan hamparan pulau-pulau yang dijatuhi sinar mentari senja. 

Buka Gambar Klik Disini

 

Sumber : Jalan2.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Broker FBS
© 2017 www.lensalensa.com - All Rights Reserved.